Selasa, 11 Juni 2013

5 Cerita Jokowi marah


Selama ini, publik lebih sering mendengar cerita Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama marah. Jarang sekali Gubernur DKI Joko Widodo menunjukkan kemarahan di depan publik.
Jokowi memang lebih dikenal sebagai pribadi yang kalem dan tidak meledak-ledak. Lain halnya dengan Ahok yang sedikit temperamental. Perpaduan keduanya disebut banyak orang saling melengkapi.

Tetapi, pada situasi tertentu Jokowi juga bisa marah. Ahok pun juga bisa kalem. Jika selama ini lebih sering tersenyum, Jokowi pun sebenarnya pernah marah. Dia akan menunjukkan mimik wajah yang berbeda dari biasanya jika tidak berkenan dengan sesuatu. Berikut 5 cerita Jokowi marah seperti dirangkum merdeka.com.

1. Soal rumah sakit mundur dari KJS

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) terlihat kesal saat ditanya soal rumah sakit swasta yang mundur dari Kartu Jakarta Sehat (KJS). Ia menegaskan, persoalan KJS dengan rumah sakit sudah selesai.

"Yang nolak mana! Yang nolak. Tunjukin. Itu bayar kok. Sama-sama bayar. Kalau orang kaya bayar pakai uang sendiri kalau ini yang bayar Pemprov DKI. Nolak-nolak yang mana nolak. Siapa yang nolak," kata Jokowi di Puskesmas Koja, Jakarta Utara, Selasa (28/5).

Justru, dengan adanya KJS masyarakat yang sakit bisa terlayani dengan baik. "Sudah 3,3 juta (terlayani)," ujarnya.

Meski ada kritik dari DPRD terkait sistem KJS ini, Jokowi tidak akan mundur. Jika ada kekurangan dalam pelaksanaan KJS, maka akan diperbaiki.

"Kami ingin perbaiki sistem. Didampingi Askes. Askes itu mendampingi kita untuk memperbaiki sistem yang ada ini. Masa kita mau mundur lagi," ujarnya.

2. Merasa dijebak

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) merasa dijebak oleh tvOne. Sebab, saat talkshow dengan tvOne yang berlangsung di tanggul Latuharhary yang jebol, presenter menanyakan hal-hal yang sebelumnya tidak disepakati.

Menurut salah satu ajudan Jokowi, Ivand, sebelum acara siaran berlangsung, Jokowi sudah berpesan agar tidak menyertakan narasumber lain. Jokowi juga tidak ingin ada pertanyaan selain soal banjir dan tanggul jebol. Pihak tvOne yang dipandu oleh presenter Muhammad Rizki rupanya memanfaatkan momentum untuk menanyakan seputar 100 hari kepada Jokowi.

"Bapak (Jokowi) tadi malam tampak kecewa berat dan marah," ungkap salah satu ajudan Jokowi, Ivand kepada merdeka.com, Jakarta, Selasa (22/1).

Menanggapi hal itu, pakar komunikasi Universitas Indonesia Ade Armando menilai wajar jika Jokowi marah. Sebab, haknya sebagai seorang narasumber telah dilanggar oleh tvOne.

"Wajar saja kalau dia marah, tapikan itu malah jadi buruk di mata masyarakat nantinya," katanya kepada merdeka.com, Rabu (23/1).

Menurutnya, sebuah TV dapat dikatakan profesional jika menghormati hak sang narasumber. Karenanya dia menilai apa yang dilakukan oleh tvOne tak etis.

3. Marahi Kepala Satpol PP Solo

Saat menjadi wali kota Solo misalnya, Jokowi bikin merah telinga Kepala Satpol PP Solo. Jokowi menceritakan itu saat menjadi pembicara di kuliah umum Puspen-PPWI dengan judul "Kepemimpinan yang Memuliakan Pelayanan Publik" di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur.

Saat itu, kepala Satpol PP Solo meminta tambahan anggaran untuk membeli 600 pentungan. "Langsung saya jawab, terus?" kata Jokowi setelah menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Padahal, Jokowi saat itu marah karena Satpol PP malah minta tambahan anggaran buat pentungan. Kemarahan Jokowi sempat tidak ditangkap oleh Kepala Satpol PP Solo. Malah dia meminta kembali pengadaan tameng dan senjata api. "Minta pistol juga," cerita Jokowi.

Setelah Kepala Satpol PP itu mengutarakan keinginannya, Jokowi langsung membentak. "Langsung saya bentak saja. Pak tolong diingat ya, selama saya menjadi wali kota, jangan sekali-kali meminta barang-barang itu. Besok semua pentungan dan tameng harus masuk gudang," ujar Jokowi.

4. Rapat MRT bertele-tele, Jokowi pergi

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) meninggalkan rapat saat membahas tentang proyek Mass Rapid Transit (MRT). Rapat itu berlangsung di Balai Kota Jakarta beberapa waktu lalu.

Rapat itu dilakukan dengan komisaris dan direksi MRT. Rapat dimulai sejak pukul 14.00 WIB dan hingga saat ini masih berlangsung. Setelah rapat berjam-jam, baik komisaris dan direksi belum bisa menyakinkan Jokowi soal proyek MRT.

"Saya juga ingin cepat, tapi kalau penjelasan direksi dan komisaris kepada saya belum komplit, saya belum mau menyetujui," kata Jokowi saat meninggalkan rapat di Balai Kota Jakarta, Selasa (30/10).

Jokowi berharap, pengembang proyek MRT dapat segera menjawab semua pertanyaan dan meyakinkan dirinya. "Intinya penjelasan mereka (pihak pengembang proyek) kepada saya belum komplit," tutur dia.

Jokowi juga menjelaskan, proyek BUMD ini harus dipikirkan matang-matang agar tidak terjadi kolaps di kemudian hari. "Bagaimana soal penumpang, kalau terjadi sesuatu siapa yang tanggung, ini nanti bisa jalan atau gak, saya ini orang bisnis, jadi hitung-hitungan," ujar Jokowi.

Setelah Jokowi keluar, rapat tetap dilanjutkan dan dipimpin oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama. Jokowi mengaku keluar dari rapat karena juga ada pertemuan dengan Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono. "Saya ada rapat dengan Kemenhub," kata dia.

5. Dia ngertinya hanya untung!

Di sela-sela peresmian acara Jakarta Fair 2013 di JIExpo Kemayoran Senin malam, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo tiba-tiba naik pitam. Dia geram saat diminta tanggapan soal pernyataan Komisaris PT JIExpo yang menyebut kegiatan Pekan Raya Jakarta (PRJ) bukanlah pameran kerak telor.

"Karena dia enggak memulai dari awal. Dia ngertinya hanya untung, hanya untung, hanya untung, tahu!" tegas Jokowi dengan muka merah saat mengunjungi penjual kerak telor di pinggiran PRJ Kemayoran Jakarta.

Mantan wali kota Solo ini menjelaskan, dari awal konsep PRJ adalah hiburan rakyat dalam rangka menyambut HUT DKI. Di PRJ, dagangan yang dijual adalah hasil kreatifitas warga atau home industri, bukan barang-barang mewah.

"Mikro-mikro, usaha-usaha rumah tangga seperti ini yang seharusnya diberi ruang. Biar mereka bisa berpesta setahun sekali. Itu yang baru kita rapatkan sekali dua kali. Mateng nanti saya sampaikan," jelasnya.

Tak hanya itu, lanjut Jokowi, kuliner yang disajikan harusnya berbasis budaya, seperti kerak telor dan lainnya panganan lainnya.

"Bayangin-bayangin, saya pingin tunjukin ini. Sepanjang jalan ini, dari ujung jalan sana tadi sampai di depan pintu. Saya sudah tahu semuanya," ucap Jokowi berapi-api.

Jawaban tegas Jokowi itu muncul karena sebelumnya Dirut JIExpo Murdaya Poo mengklaim jika jumlah pedagang kerak telor setiap tahunnya semakin bertambah di PRJ. Hal itu dia katakan usai rapat bersama Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di Balai Kota, pada 4 Juni lalu.

Sumber :
http://www.merdeka.com/jakarta/5-cerita-jokowi-marah.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

1. Silahkan masukkan komentar
2. Berkomentar dengan kata-kata yang santun
3. Jangan menggunakan kata-kata kotor
4. Jika anda tidak suka dengan yang kami sajikan, lebih baik jangan di baca
5. Tinggalkan link web/blog anda agar admin bisa visit back
6. Jadilah pengunjung yang baik
7. Kami hanya memberikan informasi dari sumber-sumber yang bisa admin percaya.
8. Maaf jika ada salah satu artikel tidak ada sumbernya.